Selasa, 26 Oktober 2010

Berburu DSLR 4 jutaan

Dengan dana 4 jutaan, sebuah kamera DSLR lengkap dengan lensa kit sudah bisa dimiliki. Buat anda yang sedang menimbang untuk mulai serius di dunia fotografi, daripada membeli kamera non DSLR dengan sensor kecil, kenapa tidak memilih DSLR saja? Dengan sensor besar, fokus cepat, kinerja tinggi dan kesempatan memiliki berbagai lensa dan aksesori, sebuah DSLR 4 jutaan pun sudah amat baik untuk mulai terjun di fotografi yang lebih serius. Kali ini kami hadirkan DSLR 4 jutaan yang bisa anda pilih di tengah tahun 2010 ini.

Canon EOS 1000D

Inilah kamera yang cukup berumur (pertama kali diluncurkan tahun 2008) namun penjualannya masih terus tinggi hingga sekarang. Saat ini harga jual 1000D sudah mencapai titik terendah dalam sejarah dengan 4,4 jutaan sudah termasuk lensa kit 18-55mm IS. Belum jelas kapan Canon akan merilis penerus 1000D, apalagi seri diatasnya yaitu 500D sudah dilanjutkan menjadi 550D.
Alasan utama banyak orang yang memilih 1000D adalah kelengkapan fitur termasuk live-view, 7 titik AF dan harganya yang jauh lebih murah daripada 500D. Lagipula, tidak semua orang perlu fitur video pada kamera DSLR.
canon-eos-1000d
Secara singkat, nilai plus dari 1000D :
  • fitur lengkap (termasuk live-view)
  • bisa auto fokus dengan semua lensa Canon (EF dan EF-S)
  • dukungan aksesori resmi untuk battery grip
Sedang minusnya :
  • tanpa spot metering
  • bodi kurang mantap
  • produk lawas, tergolong cukup berumur

Nikon D3000

D3000 adalah kamera DSLR penerus Nikon D40-D60 yang mencoba meramu teknologi D5000 dengan kesederhanaan ala D60. Hasilnya, sebuah kamera baru dengan 11 titik AF yang tergolong mewah untuk harganya yang ada di kisaran 4,4 jutaan (termasuk lensa kit 18-55mm VR) namun juga tergolong sederhana tanpa fitur live-view dan tanpa motor AF di bodi.
Alasan utama orang memilih D3000 adalah karena harganya yang sudah semakin murah (lebih murah dari D40 jaman dulu), namun kualitas khas Nikon tetap bisa dinikmati (seperti akurasi metering, legenda TTL flash, ergonomi yang nyaman dsb). Meski D3000 ini tidak sehebat D5000 yang punya fitur video dan live-view (kedua fitur tadi semakin nyaman berkat dipakainya sistem LCD lipat), toh harga D5000 juga terpaut 2 jutaan sehingga segmentasi  keduanya jelas.
nikon_d3000
Secara singkat, nilai plus D3000 :
  • produk baru
  • 11 titik AF
  • ergonomi terbaik dibanding pesaing sekelas
  • metering akurat
  • LCD lega (3 inci)
Sedang minusnya :
  • noise di ISO 800 ke atas
  • tanpa motor AF di bodi (hanya bisa auto fokus dengan lensa Nikon AF-S)
  • tanpa live-view
  • tanpa bracketing

Sony Alpha A230

Seri penerus A200 ini kini dijual di kisaran 4,2 jutaan alias DSLR termurah yang ada untuk saat ini. Dengan harga semurah ini anda sudah bisa memiliki sebuah kamera DSLR dengan lensa kit 18-55mm, plus adanya stabilizer di bodi kamera. Selain stabilizer, keunggulan lain A230 ada di layar LCDnya yang cukup lega dengan diagonal 2.7 inci. Alpha A230 cukup baik dalam spesifikasi namun juga dikritik untuk desain bodinya yang justru lebih bagus sang pendahulu A200 (utamanya dalam hal ergonomi).
sony_a230
Secara singkat, nilai plus A230 :
  • paling murah
  • ada stabilizer (sensor shift)
  • ada wireless flash commander
Sedang minusnya :
  • ergonomi jelek
  • beberapa tombol penting yang ada di A200 ditiadakan
  • tanpa live-view

Kesimpulan

Dari ketiga pilihan di atas, memang tidak ada satu pemenang mutlak. Tiap orang punya selera sendiri, pertimbangan sendiri bahkan fanatisme sendiri. Ketiganya punya bandrol harga yang sama, pilihan tentu dijatuhkan pada seberapa kita memerlukan fitur yang ditawarkan para produsen. Misal anda perlunya kamera dengan stabilizer di bodi, sehingga lensa apapun yang dipasang bisa merasakan manfaatnya, maka pilihan tentu lebih kepada Sony A230. Bila anda perlu live-view, maka pilihannya tentu 1000D.
Related posts:

Semua tentang kamera DSLR Canon EOS

Bagi anda pecinta DSLR Canon, atau yang sedang merencanakan membeli sistem DSLR Canon, apakah anda sudah kenal seluk-beluk DSLR Canon? Bagaimana konsep EOS dan EF mount, seperti apa auto fokus di kamera Canon, apa beda lensa EF dan EF-S, dan masih banyak lagi. Kali ini kami buatkan sebuah artikel yang khusus membahas DSLR Canon EOS secara lengkap hanya untuk anda. Selamat membaca..
Asal mula kamera EOS
EOS adalah singkatan dari Electro Optical System yang berarti sistem optik yang memiliki rangkaian elektronik. Canon pertama kali memperkenalkan kamera film EOS pada bulan Maret 1987 dengan meluncurkan EOS 650 dengan kemampuan auto fokus. Kamera EOS memiliki mount EF, sehingga Canon mendesain lensa khusus untuk mount EF dengan nama lensa Canon EF, dan semua lensa EF ini pasti kompatibel dengan kamera EOS.
Kamera EOS Digital pertama dari Canon adalah EOS DSC 3 dengan sensor CCD 1,3 MP (kerjasama dengan Kodak) dan tahap penting dalam manufaktur EOS ada saat Canon akhirnya bisa memproduksi sendiri kamera EOS dengan meluncurkan EOS D30 pada tahun 2000 dengan sensor CMOS beresolusi 3 MP. Sebagai prosesor dari EOS Digital, digunakanlah prosesor dengan nama Digic yang kini sudah mencapai generasi ke empat.
fd_mount
Kamera Canon sebelum 1987 memiliki mount FD yang hanya cocok untuk lensa Canon FD. Lensa FD (lihat contoh di atas) hanya bisa manual fokus dan lensa FD ini tidak bisa dipasang di mount EOS karena berbeda bentuk dan ukuran. Hal ini berbeda dengan sistem Nikon dimana semua lensa Nikon sejak jaman dahulu masih bisa dipasang di DSLR Nikon terbaru.
Transisi dari mount FD ke mount EOS menjadi saat-saat bersejarah Canon yang penuh kritik dan terkesan spekulatif. Namun akhirnya kini Canon berhasil menikmati hasilnya karena transisi berjalan sukses dan Canon menebusnya dengan memproduksi banyak lensa khusus mount EF untuk sistem EOS Digital yang berkualitas.
Lensa EF dan EF-S
Lensa EF  (electrofocus) adalah lensa buatan Canon yang memiliki mount EF sehingga pasti kompatibel dengan kamera EOS. Lensa EF bisa dipasang di bodi SLR Canon EOS film (35mm) maupun di bodi EOS digital apapun, baik dengan sensor full frame, APS-H maupun APS-C. Lensa EF kini memiliki banyak varian baik jenis prime (fix) ataupun zoom. Bahkan lensa kelas mewah dari Canon juga banyak diproduksi yaitu lensa dengan kode L-series (luxury) yang memiliki ciri ada gelang merah di ujungnya. Lensa L series ini memiliki kualitas optik yang prima dan kemampuan menahan gangguan cuaca berkat adanya weathersealing didalamnya.
drebel
Pada tahun 2003 Canon meluncurkan DSLR EOS 300D (Digital Rebel) dengan lensa kit EF-S 18-55mm. Inilah pertama kalinya diperkenalkan lensa EF-S dalam sejarah Canon. Lensa EF-S memiliki diameter image circle yang lebih kecil dari lensa EF, didesain khusus untuk DSLR dengan sensor APS-C sehingga lensa EF-S tidak bisa dipakai untuk kamera EOS film 35mm. Adapun antara lensa EF dan EF-S pada dasarnya memiliki bentuk mount yang sama dan juga kontak elektronik yang sama, jadi kamera EOS Digital dengan sensor APS-C bisa saja dipasangi lensa EF (tidak harus lensa EF-S). Tapi lensa EF-S tidak semestinya dipasang di kamera EOS Digital dengan sensor yang lebih besar dari sensor APS-C karena meski bisa dipakai tapi akan menghasilkan lingkaran hitam di tepi gambar (vignetting) karena diameter lensa EF-S yang lebih kecil.
Huruf ‘S’ pada kode EF-S sendiri adalah singkatan dari Short (back focus), maksudnya lensa EF-S memiliki jarak yang lebih dekat antara lensa dengan sensor.
Kini di pasaran tersedia banyak lensa EF dan juga EF-S. Bila anda berencana akan memiliki DSLR EOS dengan sensor full frame seperti EOS 5D mark II, maka carilah hanya lensa EF saja. Namun bila anda merasa cukup puas dengan DSLR EOS sensor APS-C seperti EOS 550D, EOS 60D atau EOS 7D, maka lensa EF-S bisa jadi pilihan.
Sistem auto fokus kamera EOS
Pada prinsipnya auto fokus (AF) di kamera EOS memakai motor AF yang ada di lensa, dengan kata lain semua lensa Canon EF memiliki motor AF didalamnya. Hal ini berbeda dengan Nikon yang memiliki motor AF di bodi kamera (meski tidak semua DSLR Nikon punya motor AF), dengan kata lain tidak semua lensa Nikon punya motor AF. Namun Canon tidak memperlakukan setiap lensanya dengan sama, dimana lensa murah dan lensa mahal diberikan motor AF yang berbeda jenis dan kualitasnya.
Terdapat dua jenis motor di lensa Canon, yaitu :
  • motor AFD (arc-form drive) atau micromotor drive -> untuk lensa murah
  • motor USM (ultrasonic motor) -> untuk lensa mahal
usm-ring
Motor AFD merupakan motor mikro yang konvensional dan murah. Didalamnya terdapat koil magnet yang berputar bila dialiri tegangan listrik. Motor ini bersuara berisik saat sedang berputar dan kecepatannya pun sedang-sedang saja. Perhatikan kalau lensa Canon EF/EF-S yang tidak diberi label USM artinya motor di dalamnya memakai sistem AFD (bedakan dengan lensa Nikon AF-S yang pasti sudah memakai motor SWM).
Motor USM merupakan tekolonogi baru yang menggerakkan motor dengan gelombang yang memberikan kecepatan lebih tinggi namun dengan suara yang lebih halus. Namun lagi-lagi Canon membagi lensa dengan teknologi USM ini kedalam dua kelompok, yaitu lensa USM untuk lensa mahal dan USM untuk lensa yang biasa.
Adapun dua jenis motor USM di lensa Canon, yaitu :
  • USM berbasis ring untuk lensa mahal (lihat contoh gambar di atas)
  • USM berbasis micromotor untuk lensa yang lebih murah
Perbedaan keduanya ada di prinsip kerja dan kemampuan manual fokus instan (FTM : full-time manual). Pada lensa USM berbasis ring, kita bisa langsung memutar ring manual fokus kapan saja kita mau. Jadi berpindah dari auto fokus ke manual fokus bisa dilakukan langsung tanpa memindah tuas AF ke MF. Bila memakai lensa non USM atau lensa USM murah (dengan micromotor), kita harus memindahkan tuas AF ke MF baru memutar ring manual fokus.
Lensa dengan kode USM atau bukan tidak akan berpengaruh pada kualitas optik, karena USM hanya menandakan sistem kerja motor AF saja. Bila anda dalam keseharian sering memotret benda yang bergerak, atau ajang olah raga dan perlu kinerja tercepat dari sistem AF lensa Canon, maka pilihlah lensa dengan teknologi USM didalamnya.
Mode dial khas Canon
Canon EOS Digital memiliki mode dial yang tidak banyak berbeda dengan kebanyakan kamera DSLR lain. Terdapat satu mode Auto, lima mode kreatif dan beberapa preset untuk kondisi yang spesifik (basic zone atau scene mode). Sekilas penjelasan tentang mode kreatif yaitu :
eos-dial
  • P (Program) : seperti mode Auto tapi kita bisa beralih dari beberapa kombinasi aperture dan shutter yang mungkin
  • Tv (Shutter Priority) : kamera menentukan setting terbaik, sementara kita menentukan berapa kecepatan shutter yang akan digunakan
  • Av (Aperture Priority) : kebalikan dari Tv, kita menentukan bukaan diafragma sementara kamera mengatur kecepatan shutter yang sesuai
  • M (Manual) : kendali akan shutter dan aperture murni pada kita sebagai pemakai
  • A-DEP (Depth of Field/DoF Preview) : kamera akan memakai bukaan terkecil (stop down) untuk preview DoF (karena mengurangi cahaya yang masuk maka tampilan di viewfinder akan menjadi agak gelap).
Lampu kilat
Canon EOS memiliki sistem lampu kilat dengan teknologi E-TTL (Electronic Through-The-Lens). E-TTL sendiri merupakan proses pengukuran cahaya (metering) melalui lensa sehingga bisa ditentukan berapa intensitas lampu kilat yang terbaik untuk tiap kondisi pemotretan. Hal ini akan menghindarkan hasil foto yang terlalu gelap atau terlalu terang saat menggunakan lampu kilat, baik saat memotret memakai lampu built-in ataupun eksternal.
Algoritma E-TTL Canon dilakukan berturut-turut yaitu :
  1. Saat tombol rana ditekan setengah, proses auto fokus dan metering (mengukur cahaya sekitar) dilakukan.
  2. Lampu pre-flash akan menyala, pantulannya kembali diukur oleh kamera.
  3. Dari situ kamera menghitung dan membandingkan dua hasil pengukuran sebelumnya.
  4. Saat tombol ditekan penuh, cermin terangkat, shutter membuka dan lampu kilat menyala.
  5. Shutter kembali menutup, cermin kembali turun dan hasil foto tampil di layar LCD.
580ex_ii
Untuk lampu kilat eksternal, Canon juga menggunakan teknologi high speed sync (FP mode) dan wireless mode. FP mode memungkinkan pemakaian lampu kilat eksternal dengan kecepatan shutter diatas kecepatan sync maksimum kamera, dengan cara lampu akan terus menyala dengan interval 50 kHz selama shutter terbuka. Hal ini cocok dipakai untuk melawan backlight meski konsekuensinya dapat menguras baterai lampu kilat. Wireless mode memungkinkan pengaturan beberapa lampu kilat sekaligus secara nirkabel, dengan satu commander dan beberapa slave. Komunikasi antara sistem lampu kilat memakai gelombang Radio Frequency (RF).
Produk lampu kilat terbaru yang pasti kompatibel dengan kamera EOS digital diantaranya :
  • Speedlite 580EX II (4 baterai AA - GN 58)
  • Speedlite 430EX II (4 baterai AA - GN 43)
  • Speedlite 270EX (2 baterai AA - GN 27)
Segmentasi produk
Kamera DSLR Canon EOS terkenal akan segmentasi produk (diversifikasi) yang jelas. Secara umum EOS Digital terbagi tiga kelompok yaitu kamera kelas pemula (juga diberi nama Digital Rebel), kelas menengah dan kelas pro.
EOS kelas pemula :
canon_eos550dInilah EOS yang biasa diincar oleh para pemula, untuk dokumentasi keluarga atau untuk sekedar menyalurkan hobi. Kamera EOS pemula ini berukuran kecil, berbahan plastik, memakai pentamirror untuk prismanya, tidak memiliki LCD di bagian atas, minim tombol dan kinerja burst yang pas-pasan.
Saat ini di pasaran ada tiga produk EOS Digital di kelas pemula yaitu :
  • EOS 1000D (10 MP, live view)
  • EOS 500D (15 MP, HD movie)
  • EOS 550D (18 MP, HD movie)
EOS kelas menengah :
canon_eos5dmkiiInilah EOS untuk para fotografer serius yang lebih dari sekedar hobi atau untuk mendukung profesimya. Kamera EOS kelas menengah punya bodi yang lebih kokoh (bisa fiber atau magnesium), sudah memakai pentaprism untuk prismanya, dilengkapi bermacam tombol akses langsung dan layar LCD tambahan di bagian atas. Fitur kamera kelas ini pun semakin lengkap dan punya ergonomi yang lebih nyaman.
Pilihan produk EOS di kelas ini adalah :
  • EOS 60D (18 MP, HD movie dengan layar LCD lipat)
  • EOS 7D (18 MP, HD movie, inilah kamera EOS tercanggih di kelompok sensor APS-C, sekaligus pengganti EOS 50D)
  • EOS 5D mark II (sensor full-frame 21 MP, HD movie)
EOS kelas pro :
canon_eos1dmkivInilah EOS untuk fotografer profesional yang berkecimpung di dunia bisnis fotografi seperti studio, produksi iklan maupun jurnalis olahraga. Kemera EOS kelas pro ini punya bodi yang besar (sehingga tidak perlu lagi memasang vertical grip), kinerja tertinggi, titik AF yang berlimpah (45 titik)  dan punya sensor besar.
Dua produk elit Canon di kelas ini yaitu :
  • EOS 1D mark IV (sensor APS-H 16 MP, HD movie)
  • EOS 1Ds mark III (sensor full-frame 21 MP)

Nikon hadirkan DSLR semi-pro penerus D90 : D7000

Hari ini Nikon merilis kamera DSLR kelas menengah baru yang bernama D7000. Kamera yang ditargetkan untuk menggantikan D90 yang begitu populer selama 2 tahun kebelakang ini kini dijual sedikit lebih mahal dengan harga 12 jutaan body only. Hadirnya Nikon D7000 ini bisa diduga adalah jawaban Nikon atas lahirnya Canon EOS 60D dimana keduanya berbagi kemiripan spesifikasi, punya harga jual yang sama dan sama-sama tergolong kamera semi profesional di kelas sensor APS-C. Nikon sendiri sejak hadirnya D5000 tampaknya sudah konsisten untuk menamai jajaran kamera DSLRnya dengan empat digit angka yang lebih aman untuk antisipasi penamaan kameranya hingga beberapa generasi mendatang.
Kalau sebelumnya Nikon mengejutkan pasar dengan membuat D3100 yang pertama memakai prosesor Expeed 2, 1080 HD video dan AF saat video, kini D7000 juga mengusung fitur serupa. Nikon D7000 ini sudah mengikuti tren dengan kemampuan merekam video berformat HD movie 1080p 24fps dengan auto fokus secara kontinu dan keleluasaan mengatur setting video secara manual. Namun andalan Nikon D7000 bukan cuma dalam hal video saja, justru sebagai kamera semi-pro D7000 lebih ditargetkan untuk memanjakan fotografer yang serius menekuni hobi fotografi dengan sederet fitur kelas atas dengan harga yang masih cukup terjangkau.
Berikut fitur dasar dari Nikon D7000 :
  • sensor 16.2 MP, CMOS, APS-C (format DX, crop factor 1.5x)
  • ISO 100-6400, bisa dipaksa hingga ISO 25.600
  • LCD 3 inci resolusi VGA, 920 ribu piksel
  • burst 6 fps (tidak bertambah cepat bila memakai baterai grip MB-D11)
  • usia shutter teruji hingga 150 ribu kali
  • shutter 30-1/8000 detik, max flash sync 1/250 detik (1/320 detik untuk FP)
  • weather proof, magnesium alloy body
  • kemampuan untuk wireless flash commander
  • pentaprisma, 100% finder coverage, 0.94x
  • dual SD slot
  • Multi-CAM 4800DX, 39 titik AF (9 diantaranya cross type), 3D AF tracking, fine tune AF
  • 2016 pixel AE metering (pertama dalam sejarah Nikon)
  • prosesor Expeed 2
  • pilihan 12 bit atau 14bit RAW
  • Quiet shutter release
  • HD movie, 1080p - 24fps, 720p - 30fps, H.264 codec
  • AF saat video, maksimum rekam 20 menit
  • virtual horizon
  • EN-EL15 baterai Lithium (baru)
  • paket body only (12 juta) atau dengan lensa kit AF-S 18-105mm VR (15 juta)
Ditinjau dari spesifikasi di atas nampak kalau hampir untuk semua aspek terdapat peningkatan signifikan dibanding D90, bahkan menyerupai fitur pada D300. Maka itu rasanya wajar bila pemilik D90 pun bakal tergoda untuk upgrade ke D7000 ini. Bodi kamera ini sepintas masih mirip dengan D90 dengan perbedaan adanya tombol khusus untuk live-view dan movie (persis seperti pada D3100).  Nikon D7000 punya tata letak tombol sebelah kiri yang sama seperti D90 yaitu untuk mengakses MENU, WB, ISO, dan QUALity. Namun pada D7000 disediakan tombol putar untuk mengakses mode pemotretan S, CL, CH seperti pada D300 (tombol putar semacam ini tidak ada di D90). Pada mode dial D7000 tidak lagi diberikan beberapa Scene Mode seperti Landscape, Macro dsb. Sebagai gantinya, tersedia satu pilihan Scene Mode, dua User Profile yang bisa disimpan (U1 dan U2) untuk menemani mode P, A, S, M dan AUTO.
D7000 ini bisa jadi membuat orang yang tadinya berencana membeli  kamera DSLR profesional D300s jadi berpikir dua kali, apalagi soal ISO dan modul metering D7000 justru lebih unggul dari D300s. Namun meski demikian dalam beberapa aspek D7000 ini masih belum secepat dan selengkap D300s, misalnya ketiadaan tombol langsung AF-ON dan tanpa selektor mode metering dan focus area yang memudahkan. D300s juga punya burst yang lebih cepat yang diperlukan oleh para jurnalis dan profesional lainnya.
Di saat bersamaan Nikon juga meluncurkan :
  • lensa fix lebar yang cepat : AF-S 35mm f/1.4 (17 jutaan)
  • lensa tele fix yang cepat : AF-S 200mm f/2.0 VR (60 jutaan)
  • lampu kilat baru SB-700 (3 jutaan)

PERBANDINGAN Canon 500D dan Nikon D5000

tahun ini kemampuan merekam video ini ternyata diturunkan ke kamera kamera untuk pemula yaitu Canon 500D dan Nikon D5000. Hal ini tentunya sangat menguntungkan buat pencinta fotografi, karena bisa mengeksplorasi media video selain fotografi biasa. Selain itu, fitur kamera semakin berkembang seperti setting ISO yang lebih tinggi dan bersih dari noise, resolusi gambar, dan lain-lain.
Di lain pihak, peluncuran kamera pemula seperti Canon 500D dan Nikon D5000 hampir disaat yang bersamaan tentu membuat bingung pemirsa, selain namanya sama-sama mengunakan angka 5, 0 dan huruf D, sama-sama memiliki kemampuan merekam video, dan punya harga jual yang hampir sama. Lalu kamera manakah yang paling cocok?
Top view : Nikon D5000 dan EOS 500D (credit : radiantlite)
Top view : Nikon D5000 dan EOS 500D (credit : radiantlite)
Nah, kita coba analisis dari perbandingan spesifikasi kunci terlebih dahulu:
Kelebihan Canon 500D
  • Viewfinder sedikit lebih besar (0.87x dibanding to 0.78x)
  • 15 megapixels  (dibanding 12 megapixel)
  • ISO sampai 12800
  • Proses gambar 14 bit (dibanding 12 bit)
  • Ada vertikal grip (beli terpisah)
  • Layar lebih besar 3 inci (dibanding 2.7 inci)
  • Resolusi layar lebih tinggi (920.000 piksel dibanding 230.000 piksel)
  • Waktu rekam 18 menit atau 4GB (dibanding 5 menit)
  • Mampu merekam HD full 1080p, meskipun sedikit putus-putus karena hanya 20 fps.
  • Kompatibel ke semua jenis lensa Canon EOS baik EF-S atau EF sedangkan Nikon D5000 hanya kompatibel dengan lensa Nikon AF-S dan Sigma HSM
Sedangkan kelebihan Nikon D5000
  • Layar LCD yang bisa diputar 360 derajat
  • Memotret lebih cepat 4 gambar per detik (dibanding 3.4 per detik)
  • Memiliki 11 titik fokus (dibanding 9 titik fokus)
  • Memiliki bodi lebih tinggi sehingga pegangan lebih mantap
  • Memiliki pilihan 19 scenes yang biasanya terdapat pada kamera kompak
Analisa secara praktis berdasarkan pengamatan dan pengalaman
Resolusi gambar Canon yang mencapai lebih tinggi 3 megapiksel tidak berarti bahwa gambar yang dihasilkan akan lebih baik, malahan  sama saja dengan kamera 10 megapiksel dan menghabiskan media penyimpanan. Tapi kadangkala resolusi besar bisa membantu bila Anda suka meng-krop foto. Misalnya ketika foto olahraga dimana Anda tidak ada waktu untuk mengkomposisi foto secara artistik.
ISO 12800 juga tidak berarti bahwa gambar akan baik. Biasanya kamera dengan sensor krop / kecil, ISO 3200 adalah batasan gambar yang layak. Lebih dari angka itu, gambar terlalu banyak noise sehingga menjadi tidak tajam dan kehilangan banyak detil.
Perbedaan jumlah titik fokus pun tidak signifikan karena penyebaran titik auto fokus antara kedua kamera hampir sama.
Lalu apa yang signifikan yang membedakan kedua kamera tersebut?
Fitur-fitur yang berkaitan dengan Video mode lah jawabannya.
Nikon D5000 memiliki layar yang bisa diputar, ini memudahkan untuk merekam video atau menggambil gambar di sudut-sudut sulit, misalnya diatas kepala atau dibawah kaki. layar semacam ini juga membantu dalam merekam video diri sendiri. Namun sedikit disayangkan bahwa dalam Nikon D5000 ini layar turun kebawah daripada kesamping seperti kamera Olympus E-620 atau kamera superzoom lainnya, akibatnya ketika mengunakan tripod, layarnya terhalangi oleh kaki kaki tripod.
Di lain pihak, layar Canon 500D sedikit lebih besar dan jauh lebih jelas dan tajam. Hal ini penting buat mengecek apakah foto yang diambil benar-benar fokusnya sudah pas atau belum. Ini penting terutama yang suka foto dengan lensa bukaan besar seperti f/1.8 atau f/1.4.
Selain itu, kamera Canon 500D bisa merekam video sampai 18 menit berturut-turut, sedangkan Nikon hanya 5 menit. Untuk sebagian orang, mungkin 5 menit saja sudah cukup, tapi saya pikir 5 menit terlalu pendek. Untuk video Youtube misalnya, 10 menit adalah standar.
Canon 500D juga bisa merekam full HD tapi hanya 20fps. Video akan terlihat kurang mulus. Jadi ini bukan keunggulan signifikan dibanding Nikon D5000.
Hal lain yang menarik untuk disinggung adalah scenes mode pada Nikon D5000 lebih banyak daripada Canon 500D, ini menggambarkan bahwa Nikon D5000 didesain untuk memuluskan transisi dari penguna kamera digital kompak ke sistem DSLR yang semakin terjangkau.
Lalu kamera mana yang terbaik?
Kalau dilihat dari spesifikasi semata, secara keseluruhan Canon 500D memiliki banyak keunggulan baik secara teknis dan kompatibitas.
Tapi kalau secara orang per-orang, tentunya berbeda-beda jawabannya.
Contoh, Bila Anda lebih suka mengunakan live view seperti kamera kompak, maka Nikon D5000 lebih menarik karena layarnya bisa diputar, dan live viewnya juga memiliki Auto focus yang bisa mengikuti objek (belum diketahui keefektifannya).
Sedangkan untuk pengguna DSLR yang lebih berpengalaman dan lebih suka mengunakan viewfinder untuk mengkomposisi gambar, maka Canon 500D lebih baik, karena viewfindernya lebih besar.
Lalu juga perlu diperhatikan kompatibilitas lensa. Nikon D5000 hanya mendukung lensa-lensa Nikon yang berkode AF-S. Meskipun banyak lensa baru yang memiliki AF-S, tapi banyak juga lensa legendaris Nikon yang tidak memiliki hal tersebut seperti lensa-lensa prime/non-zoom seperti 50mm f/1.8 yang harganya relatif murah tapi berkinerja tinggi dibanding lensa-lensa Nikon lainnya. Meski Anda tetap bisa mengunakan lensa tersebut, tapi Anda terpaksa mengunakan manual fokus.
Bagi pengguna yang telah memiliki lensa-lensa merek tertentu, maka sebaiknya mempertimbangkan untuk tetap membeli kamera yang sama mereknya, karena menurut saya, perbedaan antara kedua kamera tidak begitu signifikan.
Selain hal teknis, hal-hal emosional atau lainnya juga berpengaruh. Contoh, pengangan (grip) Nikon terasa lebih nyaman di tangan, atau letak tombol-tombol dan desain Canon terasa lebih pas dihati.
Kesimpulan
Bagi pengguna kompak yang ingin bertransisi ke DSLR, maka Nikon D5000 mungkin bisa lebih menjembatani dibandingkan Canon 500D. Di lain pihak, bila Anda cukup berpengalaman dalam DSLR, dan ingin mencoba-coba merekam video, Canon 500D mungkin lebih cocok.
Yang pasti kedua kamera ini ditujukan ke pemula dan dua-duanya memberikan nilai nilai tambah yang cukup baik dibanding dengan kamera-kamera di tahun sebelumnya.
Semoga informasi ini membantu, salam.

Daftar lengkap kamera DSLR Canon dan Nikon

Kamera DSLR Canon

Kelas pemula (entry level)
Canon EOS 1000D (Rebel XS/Kiss F)
1000dInilah kamera DSLR pemula termurah dan terpopuler yang jadi pilihan utama mereka yang budget-minded. Kamera DSLR bersensor CCD 10 MP dan memiliki 7 tiik AF ini hebatnya sudah dilengkapi live-view dan mampu memotret hingga 3 fps. Dijual satu paket bersama lensa kit dengan kisaran harga sekitar 4,8 jutaan, EOS 1000D ini direkomendasikan untuk mereka yang awalnya berencana membeli kamera prosumer namun ingin merasakan sensasi kamera DSLR.
Status : tersedia, namun menjelang diskontinu (Canon dalam waktu dekat akan meluncurkan penerus 1000D) Belum jelas apakah Canon akan membuat penerus 1000D atau akan meluncurkan kamera mirrorless.
Rival terdekat : Nikon D3000
Canon EOS 500D (Rebel T1i)
500dEOS 500D menjadi kamera DSLR termewah di seri pemula, berkat adanya fitur HD movie dan resolusi yang melonjak tajam menjadi 15 MP. Penyempurnaan lain dari 450D tidak terlalu banyak (seperti resolusi LCD dari 230ribu piksel menjadi 920 ribu piksel), sehingga harga jualnya yang ada di kisaran 7,8 jutaan (plus lensa kit) terasa agak mahal untuk ukuran DSLR kelas pemula. Direkomendasikan untuk yang menyukai memotret dan merekam video.
Status (updated) : meski produk ini sudah digantikan dengan EOS 550D per Februari 2010, namun saat ini 500D masih tersedia dalam jumlah banyak untuk beberapa bulan ke depan.
Rival terdekat : Nikon D5000
Kelas menengah (semi-pro)
Canon EOS 50D
50dEOS 50D menjadi kamera semi-pro Canon yang punya fitur lengkap plus live-view. Layaknya kamera semi-pro pada umumnya, 50D sudah berbahan magnesium alloy yang kuat, bodi weather sealed dan kinerja cepat (6 fps). EOS 50D masih memakai sensor CMOS berukuran APS-C yang resolusinya 15 MP. Sebagai kamera semi-pro, kamera ini sudah memakai finder jenis prisma yang terang. Harga jual sekarang sekitar 9 juta body-only, cocok untuk yang menginginkan DSLR semi-pro dengan harga terjangkau.
Status (updated): diskontinu, digantikan EOS 60D yang spec-down dari EOS 50D.
Rival terdekat : Nikon D90
Canon EOS 7D
7dTradisi Canon membuat seri satu digit untuk sensor full-frame tidak berlaku disini. EOS 7D hanyalah penerus dari EOS 50D dengan sensor CMOS APS-C yang dinaikkan resolusinya hingga 18 MP. Namun untungnya perubahan dari 50D ke 7D cukup signifikan, sebutlah seperti desain bodi dan tata letak tombol yang diperbaiki, serta jumlah titik AF yang jauh lebih berlimpah (19 titik). Selain itu EOS 7D juga sudah dilengkapi dengan HD movie. Dijual di kisaran harga 15 juta body-only, EOS 7D cocok untuk para pecinta sport dan foto cepat lainnya.
Status : tersedia untuk jangka waktu yang lama
Rival terdekat : Nikon D300s
Kelas pro (full frame)
Canon EOS 5D mark II
5d-iiEOS 5D mark II merupakan penerus EOS 5D dengan penambahan fitur HD movie. Selain itu, sensor 5D mark II adalah berjenis full-frame bersolusi 21 MP yang rendah noise di ISO tinggi. Namun untuk urusan auto fokus, 5D ini justru kalah oleh pendatang baru 7D sehingga kurang cocok untuk memotret sport. Belum lagi kecepatan burst-nya hanya 3.9 fps. Tampaknya kamera seharga 24 juta body only ini lebih cocok untuk yang menyukai landscape atau fotografi interior.
Status : tersedia untuk jangka waktu yang lama
Rival terdekat : Nikon D700
Kelas pro lainnya : EOS 1D mark III, EOS 1Ds mark III dan EOS 1D mark IV (tidak dibahas disini)

Kamera DSLR Nikon

Kelas pemula (entry level), tanpa motor AF di bodi
Nikon D3000
d3000Nikon D3000 merupakan DSLR penerus dari D60, boleh dibilang D3000 ini tak banyak berbeda dengan pendahulunya kecuali pemakaian modul 11 titik AF yang fleksibel. Masih mengandalkan sensor CCD 10 MP dan juga masih tanpa fitur live-view, D3000 ini juga direkomendasikan untuk pemula yang mencari DSLR yang mudah dipakai namun berkualitas baik. Dengan harga jual 5,8 jutaan plus lensa kit, tampaknya D3000 bakal jadi kamera populer di tahun 2010 ini.
Status (updated) : Telah hadir Nikon D3100 dengan kemampuan full HD movie. Stok D3000 diprediksi akan segera berkurang dan menjelang diskontinu.
Rival terdekat : EOS 1000D
Nikon D5000
d5000jpgProduk elit di kelas pemula ini mengandalkan keistimewaan LCD lipat dan HD movie, melengkapi sensor CMOS 12 MP dan burst 4 fps ditambah modul 11 titik AF yang membuatnya jadi DSLR lengkap dan sarat fitur bahkan terlalu lengkap untuk ukuran DSLR pemula. Konsekuensinya adalah harga jual D5000 yang melambung mencapai 8 juta (plus lensa kit) bahkan lebih mahal dari EOS 500D, cukup mahal mengingat D5000 bukanlah DSLR kelas semi-pro. D5000 cocok untuk mereka yang senang merekam video HD dengan angle sulit (LCD lipat sangat berguna dalam hal ini).
Status (updated) : Sejak peluncuran Nikon D3100, di pasaran mulai sulit menemukan D5000.
Rival terdekat : EOS 500D/EOS 550D
Kelas menengah (semi-pro)
Nikon D90
d90Nikon D90 merupakan penerus Nikon D80 yang populer di masa lalu, dengan positioning yang tanggung yaitu antara DSLR pemula dan DSLR semi-pro. Namun D90 sudah dilengkapi dengan fitur kelas semi-pro seperti finder jenis prisma dan top status LCD sehingga berani bersaing di kelas semi-pro (meski masih memakai material bodi plastik). Nikon D90 merupakan DSLR Nikon pertama dengan fitur HD movie dan dijual di harga 9,5 jutaan (body only), cocok untuk mereka yang tidak puas dengan DSLR pemula namun tidak sanggup membeli DSLR semi-pro yang mahal.
Status : masih tersedia untuk jangka waktu beberapa bulan lagi (menunggu kelanjutan dari D90). Update : Telah hadir Nikon D7000 yang menggantikan D90 dengan fitur yang lebih lengkap dan sensor 16 MP. D7000 akan bersaing dengan EOS 60D.
Rival terdekat : EOS 50D
Nikon D300/D300s
d300sDi kelas semi-pro sesungguhnya, Nikon mengandalkan D300/D300s yang tangguh, cepat dan mewah. Dengan 51 titik fokus dan 1005 pixel RGB metering, D300 siap diajak bekerja cepat hingga 7 fps.  D300s menambahkan fitur HD movie dan dual slot memory-card dibanding D300, namun keduanya masih sama-sama beresolusi 12 MP saja pada keping sensor CMOS APS-C. D300/D300s cocok untuk mereka yang mengutamakan kecepatan, akurasi dan custom setting yang lengkap, D300s dijual di kisaran 17 juta body only.
Status : D300 menjelang diskontinu, D300s tersedia untuk jangka waktu yang lama
Rival terdekat : EOS 7D
Kelas pro (full frame)
Nikon D700
d700Di kelas profesional, Nikon punya D700 dengan sensor FX (full frame) yang masih setia di resolusi 12 MP layaknya D300 yang berformat DX. D700 memang bersaing dengan EOS 5D mark II, bahkan harga jual body only pun sama di kisaran 24 jutaan. Soal ISO tinggi jangan kuatir, D700 sanggup memberi foto dengan noise amat rendah di ISO tinggi berkat sensor full-framenya. D700 punya 51 titik AF, burst 5 fps dan masih menyediakan built-in flash.
Status : tersedia untuk jangka waktu yang lama
Rival terdekat : EOS 5D mark II

TEKHNIK PENGAMBILAN GAMBAR DILUAR RUANGAN

Untuk memotret model di luar ruangan, ada beberapa teknik yang perlu diperhatikan oleh para fotografer pemula, antara lain :
1. Gunakan kamera pada posisi ZOOM agar model bisa berada agak jauh dari anda.
2. Jangan menggunakan lensa pada posisi Wide Angle ( lensa lebar ) karena ada akan efek distorsi, model terlihat lebih lebar.
3. Bila memotret model di luar ruangan, usahakan mencari waktu saat sinar matahari masih soft ( 8-10 pagi hari atau 3-5 sore hari ). Hal ini ditandai dengan bayangan di bawah kelopak mata atau hidung serta leher tampak lembut.

4. Gunakan teknik pencahayaan samping, dimana cahaya datang dari sisi kiri atau kanan model.
5. Untuk mengantisipasi sisi model yang tidak terkena cahaya, anda bisa menggunakan teknik fill in light (cahaya pengisi). Teknik fill in light yang sederhana adalah menggunakan kertas putih atau kain putih sebagai reflektor ( media pantul cahaya matahari )
6. Untuk model dengan ukuran tubuh sedang, posisikan kamera pada tengah tengah frame serta tingginya sejajar dengan model.
7. Untuk model dengan ukuran tubuh lebih gemuk atau lebar, usahakan mengambil posisi agak serong kira atau kanan agar model terlihat lebih kurus.
8. Untuk pemotretan model luar ruangan, pilihkan lokasi yang tidak begitu rame dan latar belakang yang lembut sehingga model menjadi tampak dominan. Pemilihan warna background pun diusahakan menghindari warna merah karena warna ini cenderung membuat warna kulit lebih pucat atau bahkan kebiru – biruan.
9. Penjiwaan oleh model sangatlah penting karena akan mempengaruhi aura dari foto yang dihasilkan, usahakan membuat model merasa nyaman dan rileks, umumnya ini akan didapat setelah 30 menit pemotretan.
10. Komunikasi yang baik penting dilakukan agar model tidak kehilangan mood, seperti menyampaikan pose yang kurang bagus, sebaiknya dibangkitkan saja rasa percaya diri sang model dengan berkata “Ok..”, “Bagus..”, “Great.. next pose please… ”

SLR Untuk Pemula

Dunia fotografer saat ini sedang banyak diminati oleh banyak orang, khususnya mahsisawa atau pelajar. Sebagai seorang yang awam di bidang fotografi, untuk memulai memasuki dunia ini terasa sangat asing dan penuh dengan istilah - istilah baru. Adalah suatu hal yang wajar bila kita berhadapan dengan berbagi istilah - istilah baru bagi para pemula, namun dukungan dunia blog sangat terasa dalam membimbing kita memasuki dunia ini.
Senjata utama bagi seorang fotografer adalah camera tentunya dan pemilihan camera yang tepat mutlak diperlukan bagi para pemula seperti saya ini. Berbagai pertimbangan pun muncul dalam pemilihan camera yang tepat, seperti pertimbangan masalah harga, kemudahan penggunaan, hasil jepretan.
Anda ingin terjun ke dunia fotografi? Tentu modal pertama yang harus dimiliki adalah kamera yang mampu mendukung kebutuhan dan kreativitas kita, dan itu umumnya adalah kamera DSLR. Meski awalnya kamera jenis ini berharga amat mahal, kini situasinya sudah banyak berubah. Bagi yang baru ingin mencicipi DSLR, atau yang memiliki budget terbatas, pilihan akan DSLR entry level adalah pilihan paling rasional. DSLR kelas ini menawarkan kemampuan dan fungsi sebuah kamera DSLR profesional namun dengan beberapa kompromi (baca : pengurangan) dalam fitur dan performa sehingga membuat harga jualnya dapat dijangkau banyak orang.
Kamera DSLR, apapun model dan merknya, ditujukan sebagai kamera profesional yang mampu memberikan kinerja dan kualitas hasil foto yang tinggi. Kamera jenis ini ditujukan bagi fotografer yang mengerti akan dasar fotografi, sehingga apabila digunakan dengan tepat tentu akan memberi hasil yang memuaskan. Dibandingkan dengan kamera saku biasa, kamera DSLR memiliki keunggulan dalam hal kinerja seperti pemotretan kecepatan tinggi, shutter lag yang singkat, ketepatan dalam pengukuran cahaya (metering) dan tersedia setting manual yang berlimpah. Pada masing-masing kamera DSLR sendiri terdapat kesamaan standar yang membedakannya dari kamera saku biasa, seperti :
  • Memiliki lensa yang dapat dilepas
  • Memiliki sensor berukuran besar
  • Memiliki modul auto fokus yang akurat
  • Jendela bidik mendapat gambar langsung dari lensa
  • Memakai shutter mekanik
  • Terdapat cermin yang dapat naik turun saat memotret
Saat pertama akan mencari kamera DSLR memang menjadi saat yang sulit. Pertama kali tentu adalah mengukur kemampuan diri, baik dalam hal dana maupun kemampuan. Bagi pemula yang sudah mengerti dasar fotografi dan telah memiliki sejumlah dana, dapat mulai mempertimbangkan DSLR entry level (pemula) yang harganya berkisar dibawah 10 jutaan. Bagi para profesional yang akan menjadikan kamera DSLR sebagai sarana mencari uang tentu memerlukan kamera yang lebih canggih dan mampu mendukung kebutuhan pemakainya. Umumnya kamera DSLR profesional digunakan di studio foto yang digabungkan dengan perangkat lain seperti sistem flash dengan kabel. Kamera profesional juga digunakan para wartawan yang memerlukan kecepatan tinggi, atau kemampuan tahan terhadap berbagai kondisi cuaca ekstrim. Oleh karena itu tentukan terlebih dahulu pada posisi manakah kita saat akan membeli sebuah kamera DSLR.
harganya terjangkau.
Pada dasarnya memilih kamera adalah seni dan pengalaman tersendiri, dimana keputusan yang tepat tentu akan memberi kepuasan dan sebaliknya kesalahan dalam memilih bisa-bisa membuat kecewa dan penyesalan. Namun dalam hal memilih kamera DSLR untuk pemula, seseorang dianggap telah cukup mengerti akan dasar fotografi, sehingga minimal mampu mengenali kelebihan dan keterbatasan dari tiap-tiap pilihan yang ada. Inilah saran yang dapat saya sampaikan :
  1. Tidak ada kamera yang paling baik. Tiap kamera DSLR, meski untuk pemula, dirancang untuk digunakan sebagai kamera serius yang dilengkapi fitur tingkat lanjut. Tanpa peduli merk, spesifikasi standar dari kamera DSLR pemula umumnya sama.
  2. Kunci dari fotografi profesional adalah lensa. Kamera DSLR memang menjadi penentu pada proses memotret, namun kualitas dan kesan profesional dari sebuah foto didapat dari jenis lensa yang terpasang. Adalah lebih sulit (dan lebih mahal) mencari lensa favorit daripada sekedar bodi kamera DSLR. Semakin sering kamera dipakai maka semakin berkurang nilai jual kembalinya, sementara lensa cenderung awet dan dapat menjadi investasi tersendiri.
  3. Dalam memilih DSLR kenali dulu fitur dan spesifikasinya, kembalikan kepada kebutuhan kita, apakah memang perlu fitur dan spesifikasi yang ditawarkan. Jangan sampai anda membayar lebih untuk fitur yang tidak dibutuhkan. Setelah itu kenali juga koleksi lensanya, asesoris lainnya dan perhatikan ergonominya.
  4. Jangan berharap fitur dan spesifikasi ekstra tinggi pada kamera DSLR pemula. Harga memang menentukan kualitas. Sorry to say, tapi ini memang harus diakui meski mungkin ada yang tidak sependapat. Saat menginginkan kualitas terbaik dari sebuah kamera DSLR, dimana spesifikasi dan fitur yang dimilikinya adalah yang kelas satu, tentu harga yang harus dibayar jauh lebih tinggi daripada DSLR pemula yang fitur dan spesifikasinya tergolong standar.